1001 Cara Pengusaha Warteg Bertahan di Tengah Pandemi
sumber CNN
Rojikin Manggala menghela napas panjang sebelum menceritakan usaha warteg miliknya yang babak belur akibat pandemi covid-19. Ia tertegun, kebingungan mencari kata untuk mengutarakan isi hatinya.
Ia harus rela melihat 5 warteg miliknya yang tersebar di wilayah Jobodetabek tutup selama setahun. Empat belas warteg yang dibangunnya dari nol sejak 10 tahun lalu kini tersisa 9.
Itu pun, kata dia, sudah dilakukan berbagai cara untuk bertahan. Rojikin mengaku sudah menjual sejumlah aset, mulai dari kendaraan hingga emas istri dilepas demi membiayai warteg yang terus nombok.
Tabungan jangan ditanya, sudah habis terkuras membiayai usaha. Hitung-hitung, Rojikin sudah menjual asetnya sekitar Rp300 juta. Kendati sudah habis-habisan mempertahankan usahanya, aset yang telah dijual masih tidak mencukupi untuk bertahan.
"Rumah kontrakan sebenarnya mau saya jual tapi sampai sekarang masih belum laku ya. Bagaimana mau beli? Mungkin semua orang mengalami hal serupa kan. Kalau aset saya likuid mungkin sudah habis semua," bebernya kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/8).
Rojikin dan istri berupaya keras untuk tidak menutup wartegnya dan merumahkan pekerja. Tapi, sebulan sudah PPKM berjalan, ia mengaku mulai kepikiran untuk menutup satu lagi warteg miliknya.
Maklum, bulan ini ada satu kontrak warteg yang jatuh tempo dan harus diperpanjang. Dia diberi waktu satu minggu untuk memutuskan nasib warungnya yang berada di Tangerang, Banten.
Rojikin mengaku belum memutuskan langkah selanjutnya. Bagai buah simalakama, ia menyebut tak ingin menutup satu warung lagi namun kas di tangan sudah seret.
"Saya minta waktu untuk berpikir, ini lagi ditungguin saya mau diperpanjang enggak," ujarnya.
Kas usaha terus boncos karena beban operasional yang dikeluarkan saat ini tidak jauh berbeda dengan saat normal. Sementara, pendapatan merosot tajam di atas 50 persen.
Ia menyebut omzet harian kini hanya berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per warung. Dulunya, masih ada warung yang bisa meraup Rp4 juta per hari.
Dari pendapatan harian, setelah dipotong belanja lauk warteg, ia menyebut hanya tersisa beberapa ratus ribu saja untuk membayar gaji dan beban operasional lain. Belum lagi, Rojikin juga terlilit tumpukan utang.
Sebagai pelaku usaha kecil, Rojikin menyayangkan kembali diberlakukan PPKM. Sebab, sebelum PPKM berlaku mulai terlihat momentum pemulihan pendapatan. Bahkan, ia sempat optimis dan mengambil tambahan modal di bank.
Baru mau bangkit, PPKM diberlakukan. Sebagai pelaku kecil, Rojikin hanya bisa mengelus dada dan menjalankan aturan. Awalnya, ia kira PPKM hanya akan berlangsung dua pekan namun kini sudah sebulan berselang.
Walau tertatih, Rojikin menyebut masih berusaha sekuat tenaga untuk tak melakukan PHK. Ia sempat menawarkan kesempatan untuk karyawannya mengelola warteg yang sudah tidak lagi mampu dibayarnya. Sayang, sepinya pemasukan membuat tawaran tersebut tidak menarik.
Ketika ditanya soal bantuan yang sudah didapatnya dari pemerintah, Rojikin hanya tertawa. "Iya dapat, dapat informasinya saja," selorohnya.
Sudah 1,5 tahun pandemi, ia menyebut hanya menerima keringanan restrukturisasi utang, itu pun baru diberikan bulan ini. Berbagai informasi yang dia dapatkan soal bantuan untuk pelaku usaha tidak pernah sampai kepadanya.
Dia berharap pemerintah bisa bergerak cepat memberi berbagai macam bantuan yang dijanjikan. Bila tak cepat, napas pelaku usaha yang sudah putus-putus bisa berhenti.
"Beritanya sudah santer banget bantuan untuk UMKM tapi saya tanya teman-teman belum ada yang dapat. Gimana caranya dapetnya? Itu berita bener apa enggak saya enggak ngerti itu," ungkapnya.
Himpitan ekonomi tak hanya dirasakan Rojikin, Sapto Wahyudi, General Manager Terminal Wisata Grafika Cikole juga mengeluhkan hal serupa. Selama tempat wisata yang dikelolanya mesti tutup akibat pandemi, ia harus putar otak untuk membayar biaya operasional.
Mau tak mau, ia harus menjual sebagian koleksi burung. "Sebenarnya, kami ingin menyelamatkan operasional perusahaan untuk menutup gaji karyawan, sehingga mau tidak mau, salah satunya jual koleksi burung macaw," ujarnya, Rabu (28/7).
Manajer yang berdomisili di Lembang, Kebupaten Bandung Barat, Jawa Barat, ini menyebut ada enam ekor burung macaw yang terpaksa dilego. Burung dengan paruh bengkok tersebut laku dijual Rp30 juta untuk ukuran sedang dan Rp100 juta untuk ukuran besar.
Comments
Post a Comment