History of Toko oen

 The Colonial Tastes of Toko “OEN”

 Gendut makan terus.  Toko “OEN” adalah salah satu restoran tertua milik keluarga yang masih dijalankan dan dikelola oleh keturunan langsung pendirinya. Awalnya dimulai sekitar tahun 1910 di Yogyakarta oleh Ny. Liem Gien Nio (Nenek Oen / (Belanda: “Oma Oen”), istri dari Tuan Oen Tjoen Hok (Kakek Oen / Belanda: “Opa Oen”) Nama ini memiliki arti harfiah “Toko Kue Oen”.
Dalam sejarah berdirinya Toko “OEN”, total ada 4 (empat) cabang: Yogyakarta (1910-1937), Jakarta (1934-1973), Malang (1936-1990), dan Semarang (1936-sekarang)

Pada tahun 1922 toko kue ini telah mengalami transformasi dari hanya sekedar menjual kue kering menjadi toko es krim dan kemudian menjadi restoran. Dapur didasarkan pada selera dan masakan Belanda, Indonesia, dan Cina.


Kemudian pada tahun 1934 dibuka cabang di Malang dan Batavia (Sekarang: Jakarta). Pada tahun 1935, Kakek Oen membeli sebuah gedung di Semarang dari seorang Inggris yang memiliki ruang panggangan di tempat tersebut. Gedung ini terletak di jalan Bodjong ke-52 (sekarang: Jalan Pemuda). Mulai tahun 1936 gedung ini disulap menjadi Toko “OEN” Semarang. Tempat aslinya di Yogyakarta kemudian digabung menjadi satu.

Pada tahun 1973 gedung cabang Jakarta dibeli oleh Bank ABN dan dirobohkan untuk dibangun kembali sebagai fasilitas kantor.


                                     
Pada tahun 1990 terjadi kemerosotan cabang di Malang. Gedung tersebut dibeli untuk direnovasi sebagai showroom mobil. Karena nilai sejarah bangunan di Malang, pemerintah daerah melarang bangunan untuk direnovasi dengan cara apapun. Bangunan harus tetap utuh seperti dulu, termasuk semua hiasan di bagian depan yang sebenarnya merupakan identitas perusahaan Toko “OEN”. Pemilik baru gedung kemudian terus menggunakan identitas dan merek dagang Toko “OEN” sebagai restoran dan kedai es krim. Ini sebenarnya merupakan kegiatan/penggunaan merek dagang Toko “OEN” yang tidak sah karena pemilik baru bangunan tidak memiliki perjanjian apapun dengan pemegang paten merek dagang Toko “OEN”, yang bertempat tinggal, menjalankan dan mengelola Toko “ OEN” di Semarang. Manajemen Toko “OEN” Malang saat ini tidak mencerminkan aspek atau resep apa pun yang “diciptakan” oleh mendiang nyonya. Liem Gien Nio & mr. Oen Tjoen Hok.

Hidangan di Toko “OEN” Semarang masih disiapkan dan dibuat seolah-olah disiapkan oleh Nenek Oen sendiri saat itu. Restoran ini juga memiliki status dari menu yang klasik gaya Kolonial Belanda: uitsmijter, huzarensalade, kaasstengels, dan sebagainya. Untuk tutti-frutti nostalgia, orang-orang datang dari dekat dan jauh ke Semarang. Jika kita memiliki Michelin Guide di Indonesia, mereka akan mengutip ini sebagai “It's worth the detour!”.

Baca juga :
resto klasik dari jaman belanda yang masih bertahan hingga sekarang





Comments